Sudut Rias Kecil untuk Berdua

Akhir tahun lalu saya sempat menulis ingin membenahi meja rias. Dengan bahagia, saya mengabarkan kalau meja rias saya sudah bisa rapi dan digunakan dengan nyaman. Decluttering dan penambahan beberapa item berguna membuatnya jadi sudut yang proper. Happy!

Satu meja, banyak kebiasaan
Sebelum menikah, saya punya meja rias besar yang digunakan sendiri. Begitu menikah, ternyata kamar kami tidak cukup untuk meletakkan meja rias (atau belum, karena masih dalam proses mengisi furnitur). Jadilah kami menggunakan space di atas laci IKEA MALM yang kami jadikan sebagai lemari pakaian. Mayoritas perlengkapan saya, dan sedikit milik suami.
Pada awalnya, “meja” tersebut terasa luas. Kalau butuh bercermin saya hanya perlu menggunakan cermin dinding yang ada di dekatnya. Saat barang bertambah, saya membeli satu laci kecil serta satu keranjang, dan itu dirasa cukup. Sampai dua-tiga tahun kemudian, saya merasa sudut rias ini sulit sekali untuk rapi.
Setiap kali dandan, perlengkapan rias bergeletakan begitu saja. Hanya sedikit yang bisa masuk laci. Keranjang jadi tempat berbagai barang, mulai dari charger, kunci, sampai kipas angin mini. Ditambah dengan barang-barang suami yang bergeletakan di sekitarnya, makin penuhlah isi meja.
Setelah mencermati kebiasaan, memang meja itu tidak lagi jadi sekadar tempat untuk rias. Karena tidak ada nakas, meja itu juga berfungsi sebagai landing space, tempat untuk menaruh barang-barang yang digunakan sehari-hari. Oke, jadi itulah akar utamanya.
Dengan kamar yang kecil, saya tidak bermaksud untuk mengubah penggunaannya. Saya pernah baca bahwa baiknya penyusunan furnitur mengikuti kebiasaan penghuni, bukan sebaliknya. Jadi, yang perlu saya lakukan adalah memilah area ini supaya memenuhi kebutuhan kami dan menyingkirkan semua yang tidak dibutuhkan.
Pembersihan tahap awal

Sebelum membeli perlengkapan tambahan, tentu decluttering adalah langkah pertama. Saya membongkar semua laci dan wadah, dan menemukan banyak sekali barang yang sebenarnya jarang saya sentuh, tapi posisinya tetap di sana, seperti kartu ucapan, sampel parfum, dan bekas tiket konser.
Ternyata, saya juga suka meletakkan barang dengan tidak fleksibel. Misalnya jarum pentul dan peniti yang jadi keperluan saya setiap hari. Alih-alih meletakkannya di area yang mudah dicapai, saya malah meletakkannya di dalam laci. Alhasil, saya kesulitan menemukan peniti kalau perlu yang baru, dan meletakkan peniti yang baru saya pakai sembarangan. Rawan hilang.
Selain itu, ternyata ada cukup banyak produk yang fungsinya berulang. Tahun kemarin saya dapat cukup banyak sampel make-up dan skincare: entah dari pekerjaan maupun oleh-oleh.
Saya juga sempat membeli beberapa produk skincare yang sama dengan maksud untuk stok: namun setelah habis satu-dua, saya merasa produk tersebut tidak cocok lagi. Jadilah stoknya menumpuk di meja dan lemari.
Setelah saya sortir, ada beberapa yang sudah kadaluwarsa, ada yang saya berikan pada teman atau adik, ada yang saya simpan di lemari dengan target untuk menggunakan semuanya. Jadi, selain merapikan barang, saya juga berhemat.
Membagi ruang dengan jelas

Berdasarkan kebiasaan dan keperluan saya (dan suami), kami butuh area yang bisa memenuhi syarat-syarat berikut:
- Landing space. Tempat ini adalah tempat pertama yang kami datangi begitu pulang kantor. Barang-barang yang sering langsung ditaruh di meja di antaranya adalah ponsel, jam tangan, dompet, dan kunci kontak kendaraan.
- Post-bath skincare. Body lotion, pelembap wajah, toner, parfum, dan teman-temannya, karena kami menggunakan masing-masing merek yang berbeda.
- Charging space. Ada satu stop kontak yang juga digunakan untuk penggunaan hair dryer. Sisanya lebih sering dipakai untuk charge ponsel dan perangkat lain, seperti power bank dan kipas mini (hahaha).
- Keperluan temporer. Kadang ada benda yang diperlukan ditaruh di situ setiap hari untuk beberapa hari, seperti gelas minum dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
Karena areanya sempit, saya tidak melakukan pembagian segmen per orang. Segmen dibagi per fungsi. Bagian kiri untuk skincare, tengah untuk landing space dan charging (karena ada stop kontak). Setelah saya tahu zoning yang saya mau, barulah saya membeli barang yang dibutuhkan.
Penambahan cermin dan rak vertikal
Nah, setelah barang-barang dikurasi, baru deh saya menambahkan barang yang sekiranya diperlukan. Ada dua barang baru kali ini, yaitu rak dan cermin. Iya, selama ini nggak ada cermin khusus di area rias saya. Saya lebih sering pakai cermin kecil yang masuk tas, atau malah pakai pantulan di televisi yang ada di dinding dekat situ (jangan ditiru).
Rak dua susun plastik

Muter-muter e-commerce karena nyari rak kayu, namun ternyata jodohnya malah rak plastik. Rak sederhana ini terdiri dari dua tingkat yang harus disusun sendiri. Plastiknya lumayan keras. Saya butuh tenaga ekstra untuk menghubungkan tiang-tiang besi ke wadah plastiknya.
Rak ini fleksibel. Kalau dilihat di ulasan yang ada, orang-orang menggunakan rak ini untuk perhiasan, skincare, sampai wadah air mineral gelas di meja tamu. Warna-warnanya juga cantik.
Bagian bawah saya pakai untuk meletakkan barang-barang rias yang ternyata sudah cukup banyak. Bagian atas digunakan untuk perlengkapan rambut seperti ikat rambut, hair tonic, sisir, dan sejenisnya. Setelah decluttering, rak ini masih tetap penuh. Terbayang kalau nggak dipilah, pasti raknya tidak akan muat.
Kalau ada yang tertarik dengan rak ini, bisa beli di sini.
Cermin meja

Hore, akhirnya saya punya cermin meja! Sebenarnya gampang saja untuk membeli cermin ini, tapi saya selalu menunda. Ada aja alasannya, termasuk nggak yakin dengan desain yang dipilih.
Dari beberapa model cermin yang sudah ada di keranjang e-commerce saya, saya akhirnya memilih cermin berbingkai kayu dengan model klasik. Meja dan kebanyakan furnitur saya bermodel simpel, dan cermin ini memberikan aksen tambahan dengan modelnya yang lebih “berkarakter” dibanding bagian atas laci IKEA saya yang didapuk menjadi meja rias ini.
Daripada ke fungsi, emang pilihannya condong karena estetika aja sih hehehe. Toh saya lebih sering dandan di jalan atau di kantor (😅).
Cerminnya bisa dibeli di sini.

Sesuai perencanaan, saya melakukan penataan berdasarkan zoning yang sudah saya tentukan di atas. Semua barang di foto ini milik berdua, sudah dikurangi dan dirapikan. Secara umum, perencanaan saya tidak meleset.
Barang-barang sejenis dikelompokkan; saya juga meletakkan barang yang biasa dipakai supaya mudah dicapai. Dalam hal ini, jarum pentul dan peniti hahaha. Kalau dalam kasus suami, jam tangan. Karena Abang suka ganti-ganti jam tangan dan butuh tempat temporer untuk meletakkan rotasi jam tangannya setiap hari.
Setelah dua bulan operasional

Yah, itulah hasil “renovasi” meja rias saya. Hasil akhirnya memang rapi, namun apakah hasil tersebut sudah sesuai untuk kehidupan sehari-hari?
Karena merapikan itu mudah, menjaganya supaya tetap rapi itu yang sulit. Setelah beberapa hari, meja tersebut kembali saya dan suami gunakan untuk kehidupan sehari-hari. Kembali autopilot, dengan segala kesibukan dan kehebohan di pagi hari.
Ini foto yang saya ambil di awal bulan Maret setelah saya menyelesaikan tulisan ini.

…yup! Masih rapi. Secara umum nggak ada yang berubah. Posisi barangnya ada yang berubah seiring kebiasaan, tapi pembagian areanya tetap rapi dan tidak berubah drastis.
Poin paling penting dari membereskan ulang sudut rias ini sebenarnya adalah bagian buang-membuangnya, bukan menambahkan barang baru. Barang yang saya tambahkan—rak dan cermin—hanya sekadar membagi dan menambah fungsi.
Tentu saja saya senang dengan hasil ini. Berarti beres-beres saya berhasil 🥰
(Nulisnya aja yang kurang berhasil, soalnya ketunda lama banget)
Salam,
Mega