Perencanaan Low-Buy Year 2026

Tahun lalu saya memutuskan untuk menerapkan Low-Buy Year; alias lebih mindful dengan apa yang saya beli. Saya membuat beberapa aturan kecil, memantau kebiasaan berbelanja, dan berusaha memenuhi aturan mainnya.
Apakah hal tersebut membuat saya tidak boros? Tidak juga, tetapi melihat daftar belanjaan (online) saya tahun kemarin, saya cukup puas dengan hasilnya. Semua barang yang saya beli saya perlukan dan gunakan, dan hanya sedikit yang saya sesali. Kurang dari lima barang. Sedikit pengalamannya saya tulis di sini:
Baca juga: evaluasi low buy year 2025
Baca juga: Merencanakan Low Buy Year di Tahun 2025
Aturan Main Low-Buy Year 2026
Karena itu, tahun 2026 saya kembali menerapkan Low-Buy Year, dengan aturan main yang sedikit berbeda. Lebih sederhana dan lebih sesuai dengan apa yang saya butuhkan tahun ini.
Fokus pada wishlist
Satu hal yang cukup membantu saya dalam memenuhi syarat Low-Buy Year tahun 2025 adalah mengelola daftar keinginan alias wishlist. Saat saya menginginkan sesuatu, saya cukup memasukkannya ke keranjang belanja (online).
Saat masih menginginkan hal tersebut dua minggu kemudian, saya pindahkan barangnya ke daftar keinginan yang saya simpan di Reminders. Sewaktu-waktu saat tiba waktunya belanja, saya tinggal melihat daftar tersebut. Hal ini memastikan apa yang saya beli sudah benar-benar dipikirkan dan tidak melebar kemana-mana.

Gunakan apa yang sudah ada
Setelah membereskan barang—terutama di meja rias— saya baru sadar kalau saya punya banyak sampel yang belum terpakai. Saat membeli sesuatu, kadangkala ada bonus sampel sasetan. Saya juga menerima beberapa pemberian yang terlupakan karena kembali menggunakan merek yang biasa saya pakai.
Tahun ini saya bertekad menghabiskan semuanya. Kemarin sempat coba dua merek sunscreen yang berbeda dari yang biasa dipakai, dan kulit saya aman-aman saja. Jadi, hal ini tentu akan saya lanjutkan.
Baca juga: Sudut rias kecil untuk berdua
Membatasi penggunaan kartu kredit
Akhir-akhir ini saya sering menggunakan kartu kredit untuk transaksi sehari-hari. Tujuannya sederhana: Supaya transaksi tercatat dan saya nggak perlu top-up uang elektronik berkali-kali. Maklum saya sering sekali pakai layanan ojol.
Pembayaran selalu dilakukan penuh sehingga tidak ada cicilan. Namun ternyata menggunakan kartu kredit sedikit menghilangkan sense terhadap sisa uang yang saya miliki. Jadi per bulan ini saya membatasi penggunaan kartu kredit hanya untuk kebutuhan rumah tangga. Untuk ojol, lebih baik saya menyisihkan uang dan top-up sejak awal, sehingga ada batasan.
Belanja setelah tanggal 25
Karena bekerja di instansi pemerintah, gaji saya dibagi dalam dua gelombang setiap bulan: setiap awal dan pertengahan. Memang, hal ini cukup baik untuk menjaga cashflow (saat uang habis, ada transferan baru). Tetap saja hal ini menimbulkan delusi—alias pengen jajan terus begitu gajian.
Per tahun ini saya memberikan batasan kecil: tidak boleh beli keperluan pribadi sebelum tanggal 25. Keperluan pribadi termasuk kalau saya ingin beli hadiah untuk orang, keperluan pendukung pekerjaan, dan lain-lain. Jadi yang boleh dibeli sebelum tanggal 25 hanyalah keperluan rumah tangga.
Batasan pembelian di tahun 2026
Pakaian: 1 item/bulan
Kondisi pakaian saya memang butuh replacement dan dari sananya hanya sedikit. Sebagai perempuan, kayaknya koleksi pakaian saya leans to the fewer sides, dengan jumlah dan tipe pakaian yang bisa saya ingat. Fokus tahun ini adalah membeli pakaian yang fleksibel dan tahan lama, sehingga bisa dipakai bertahun-tahun.
Tas dan Sepatu: strictly wishlist only
Jumlahnya memang tidak dibatasi karena sudah tersaring dengan sendirinya oleh wishlist. Semua tas dan sepatu yang ada di wishlist saya adalah untuk pemakaian jangka panjang, dengan harga yang rata-rata butuh nabung dulu. 🤣
Jadi temanya: Sabar. Kira-kira tahun ini, berapa wishlist ya yang akan berhasil saya penuhi?
Parfum: 2 botol/tahun
Quite generous, isn’t it? Tahun kemarin saya berhasil membatasi koleksi hanya di tiga jenis parfum dalam satu waktu. Jadi, sekarang saya sudah tahu butuh berapa. Berhubung sudah ada dua botol yang saya habiskan tahun kemarin, berikut dengan berbagai sisa decant dan bonus, jadi rasanya dua botol adalah jumlah yang pantas.
Make-Up: hanya mengganti yang sudah habis
Low-Buy Year 2025 cukup membuka mata saya tentang sebanyak apa make-up yang saya butuhkan. Awal tahun ini saya dapat rezeki voucher belanja make-up yang saya gunakan untuk membeli make-up yang saya perlukan. Hasilnya, koleksi make-up saya—khususnya lipstik dan blush-on—sudah nggak bolong-bolong lagi dan siap digunakan sepanjang tahun.
Karena itu, saya hanya akan membeli produk yang sudah habis; misalnya kalau bedak dan pensil alis saya habis. Untuk lipstik, karena jumlahnya cukup banyak, saya yakin tahun depan produk-produk tersebut masih bersisa dan bisa saya pakai. So, no new lipstick this year (kecuali kalau dikasih).
Minuman manis: 2 buah/bulan
Ini semacam lanjutan dari Low-buy year tahun kemarin sih. Tahun kemarin saya sempat bilang ingin stop dari minuman manis. Saya menyadari kalau minuman seperti ini adalah bagian dari saya bersosialisasi, dan saya juga memang mengapresiasi jenis-jenisnya (I love mocktails, apalagi yang presentasinya cantik).
Jadi, untuk sekarang, kita mulai dengan dua kali sebulan saja. Kalau dikasih orang, hmmm, sepertinya saya masih harus memikirkan mau bagaimana deh (Ha ha ha).
Buat aturan Low-Buy Year-mu sendiri
Challenge ini ternyata cukup bermanfaat untuk saya. Soalnya saya bisa bikin aturan sendiri. Selonggar mungkin ataupun seketat mungkin, dan memastikan kalau hal yang dilakukan memang memberikan dampak pada kebiasaan saya menggunakan uang.
Kalau savings challenge atau no-spend challenge, sepertinya masih terlalu keras buat saya yang doyan jajan ini haha. Daripada mengejar nominal, saya cenderung fokus pada kebiasaan saya selama ini, mencoba memberikan batasan yang sehat, dan harapannya dapat memberikan saya fondasi untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih baik.
Apakah kalian ikut Low-Buy year juga?
Salam,
Mega